Hukum Zone

Sarana Belajar Hukum Islam dan Hukum Positif

Usia Dewasa Menurut Hukum

Usia Dewasa Menurut Hukum
Usia Dewasa Menurut Hukum
Dalam sistem hukum nasional, terdapat perbedaan dalam penentuan umur dewasanya seseorang. Seseorang yang telah dianggap dewasa, cakap untuk melakukan segala perbuatan hukum yang mengatasnamakan dirinya sendiri maupun mewakilkan pihak lain seperti jual beli dll.

Seseorang dapat dikatakan dewasa bila ditinjau dari Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Pasal 330 adalah mereka yang telah mencapai umur genap 21 (dua puluh satu) tahun, atau telah terlebih dahulu melangsungkan perkawinan.

Bagi mereka yang masih belum mencapai umur genap 21 (dua puluh satu) tahun dapat dianggap dewasa apabila telah melangsungkan perkawinan, sebab dalam Undang-Undang No.1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan mengizinkan pihak pria yang sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihak wanita yang sudah mencapai umur 16 (enam belas) tahun untuk melakukan perkawinan.

Undang-Undang No.39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia memiliki pengertian berbeda tentang kedewasaan. Seseorang masih dianggap anak apabila masih berusia dibawah 18 (delapan belas) tahun dan belum menikah.

Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Pasal 45 mengatur bahwa seseorang yang umurnya belum 16 (enam belas tahun) masih dianggap belum dewasa dan segala tuntutan atas perbuatannya harus diputus oleh hakim untuk memerintahkan supaya sitersalah dikembalikan kepada orang tuanya.

Selain itu Undang-Undang No.23 Tahun 2006 Tentang Administrasi Kependudukan mengatur setiap penduduk warga negara Indonesia yang telah berumur 17 (tujuh belas) tahun wajib memiliki KTP (Kartu Tanda Penduduk). Tidak ada kata dewasa dalam pengaturan tersebut disebutkan, namun masyarakat pada umumnya menganggap usia 17 (tujuh belas) tahun adalah usia seseorang dewasa. Hal ini didukung oleh Undang-Undang Tentang Pemilu yang memberikan hak suara bagi warga negara Indonesia yang telah berusia 17 (tujuh belas) tahun.

Pada Hukum Islam, seseorang dikatakan dewasa apabila telah menunjukkan ciri-ciri kedewasaan (baliqh). Tidak ada penetapan dewasanya seseorang melalui umur, hanya berdasarkan ciri-ciri fisik dan tingkah laku.

Akibat perbedaan-perbedaan kriteria dewasanya seseorang dalam hukum, maka tidak mudah menjawab berapa usia dewasanya seseorang menurut hukum. Yang dapat kami sarankan adalah melihat apa yang hendak dilakukan, berkaitan dengan ruang lingkup hukum apa yang mengatur, maka dapat diperoleh jawaban usia dewasanya seseorang menurut hukum.

Dasar hukum:
1. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
2. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
3. Undang-Undang No.1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan
4. Undang-Undang No.39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia
5. Undang-Undang No.23 Tahun 2006 Tentang Administrasi Kependudukan

Sumber: www.pintarhukum.com | Agustus 24, 2015

Warga Negara Asing Bisa Punya Tanah

Warga Negara Asing Bisa Punya Tanah
Warga Negara Asing Bisa Punya Tanah
Hak milik adalah hak yang dapat dimiliki secara turun temurun, terkuat dan terpenuh yang dapat dipunyai orang atas tanah dan dapat beralih dan dialihkan kepada pihak lain dengan tetap memperhatikan fungsi sosial.

Yang hanya diperbolehkan memiliki tanah dengan status Hak Milik menurut Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 Tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria adalah

Warga Negara Indonesia
Pasal 9 UU No.5 Tahun 1960 menyebutkan hanya warganegara Indonesia dapat mempunyai hubungan yang sepenuhnya dengan bumi, air, dan ruang angkasa dalam batasan yang diatur ketentuan Pasal 1 dan 2.

Hal ini dikuatkan kembali dalam Pasal 21 ayat 1 UU No.5 Tahun 1960 yang berbunyi hanya warganegara Indonesia dapat mempunyai hak milik.

Badan-Badan Hukum Tertentu
Dalam Peraturan Pemerintah No.38 Tahun 1963, badan-badan hukum yang dapat memiliki hak milik atas tanah adalah badan-badan hukum negara yakni bank-bank yang didirikan negara, koperasi pertanian, badan-badan keagamaan, dan badan-badan sosial.

Warga negara asing tidak diperbolehkan untuk memiliki tanah dengan hak milik. Hal ini dikarenakan asas Larangan Pengasingan Tanah yang dianut dalam undang-undang, tanah di Indonesia pada hakikatnya adalah milik bangsa Indonesia sehingga hanyalah warga negara Indonesia yang dapat memiliki.

Tujuannya agar tanah yang berada diwilayah Indonesia tidak jatuh ketangan bangsa asing, sehingga setiap warga negara Indonesia mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh suatu hak atas tanah untuk mendapat manfaat dan hasilnya bagi diri sendiri maupun keluarga.

Dasar hukum:
1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 Tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria
2. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 1963 Tentang Penunjukan Badan-Badan Hukum Yang Dapat Mempunyai Hak Milik Atas Tanah

Sumber: www.pintarhukum.com | June 6, 2015

Mengeluarkan Zakat pada Bulan-bulan Tertentu

Mengeluarkan Zakat pada Bulan-bulan Tertentu
Mengeluarkan Zakat pada Bulan-bulan Tertentu

Diskripsi masalah:
Kebanyakan orang memilih mengeluarkan zakat pada bulan-bulan yang mulia seperti Ramadhan dan sebagainya, padahal haul (genap 1 tahun) nya bukan pada bulan tersebut.

Pertanyaan:
a.     Sahkah pengeluaran zakat tersebut? Jika tidak sah bagaimana jalan keluarnya?
b.     Bagaimana pula cara zakatnya, jika sampai lupa permulaan haulnya atau ingat tapi lupa pada kadar zakat yang wajib dikeluarkan?

Jawaban:
a.     Zakat tersebut sah, baik ta’jil maupun ta’khir. Akan tetapi kalau ta’khir berdosa. Dan apabila ta’jil harus menetapi syarat sebagai berikut:
1.      Sudah ada satu nishob, untuk selain harta dagangan.
2.      Ta’jil hanya dilakukan untuk satu tahun.
3.      Malik (orang yang memiliki) tetap termasuk orang yang wajib mengeluarkan zakat, dan qobidl (orang yang menerima) tetap termasuk orang yang berhak menerima zakat, sampai akhir tahunnya harta yang wajib dizakati.
b.     Cara zakatnya, baik lupa permulaan haulnya atau lupa pada kadar zakat yang wajib dikeluarkan, adalah al-akhdzu bil yaqin (mengikuti keyakinannya).

Pengambilan ibarat:
1. I'anatut Tholibin, juz II, hal. 186
2. Nihayatuz Zain, hal. 178-179
3. Hamisy as-Syarwani, juz III, hal. 253
4. Al-Mahalli, juz II, hal. 31

وفى إعانة الطالبين، ج 2 ص 176، مانصه:
(وجاز) للمالك دون الولى (تعجيلها) أى الزكاة (قبل تمام حول) لاقبل تمام النصاب فى غير التجارة (قوله لا قبل تمام نصاب) أى لايجوز تعجيلها قبل تمام النصاب وذلك لعدم انعقاد حولها حينئذ. (قوله فى غير التجارة) اما هى فيجوز تعجيل زكاتها قبل تمام النصاب فيها وذلك لان انعقاد حولها لا يتوقف على تمام النصاب فلو اشترى عرضا لها لايساوى مائتين فعجل زكاة مائتين وحال الحول وهو يساوهما اجزأ المعجل. اهـ

وفى نهاية الزين، ص 179-178، مانصه:
لايجوز تعجيل الزكاة (لعامين) ولا لأكثر منهما اذ زكاة غير الأول لم ينعقد حوله والتعجيل قبل انعقاد الحول ممتنع فان عجل لأكثر من عام اجزأه عن الأول مطلقا -إلى أن قال- وشرط وقوع المعجل زكاة بقاء المالك بصفة الوجوب عند آخر الحول والقابض بصفة الإستحقاق والمال إلى تمام الحول فان مات مالك أو قابض قبله أو ارتد قابض أو غاب ولم نجز نقل الزكاة أو استغنى بمحض غير المعجل كمعجل آخر أخذه بعد الأول أو نقص نصاب أو زال عن ملكه وليس مال تجارة لم تجزئه لخروجه عند الوجوب عن الأهلية فى الطرفين -إلى أن قال- (وحرم تأخيرها) أى تأخير المالك أداء الزكاة بعد التمكن (وضمن) أى المالك (ان) أخر الأداء (تلف) أى المال (بعد التمكن) وقد مر لتقصيره ‑إلى أن قال‑ ويجوز التأخير لطلب الأفضل لتفريقه أو لطلب الإمام حيث كان تفريقه أفضل ولانتظار قرابه وان بعدت وجار أو أحواج أو أصلح لأنه تأخير لغرض ظاهر. اهـ

وفى هامش الشروانى، ج 3 ص 253، مانصه:
وكذا لو جهل المقدار من نفع كل باعتبار المدة أخذ بالإستواء لأن لايلزم التحكم ولو علم ان أحدهما أكثر وجهل عينه فالواجب ينقص عن العشر ويزيد على نصفه فيؤخذ اليقين إلى أن يعرف الحال. اهـ

وفى المحلى، ج 2 ص 31، مانصه:
(تنبيه) لو شك فى جنس النقد الذى اشترى به أو فى جنس العرض أو قدره ففيه تأمل يراجع والوجه فيه العمل بالاحوط. اهـ

Pembagian Zakat Memakai Formulir dan Batas Waktu

Pembagian Zakat Memakai Formulir dan Batas Waktu
Pembagian Zakat Memakai Formulir dan Batas Waktu

Diskripsi masalah:
Ada panitia zakat dalam cara pembagiannya memakai formulir dan batas waktu. Artinya: apabila pengambilan zakat itu sudah lewat waktu yang telah ditentukan panitia, maka harta zakat tidak dapat diambil, dan oleh panitia dijadikan dana untuk pembangunan masjid.

Pertanyaan:
Apakah sistem seperti itu (memberi batas waktu) sudah cukup sebagai daf’uz zakat?

Jawaban:
Pembagian zakat oleh panitia dengan formulir kepada mustahiq, apabila ternyata harta zakat tidak diambil oleh mustahiq karena sudah lewat batas waktu yang telah ditentukan panitia, maka pembagian zakat tersebut belum cukup sebagai dafuz zakat.

Apapun si pemilik sudah bebas dari tanggungan zakat menyerahkan zakat kepada  panitia, bilamana panitia tersebut terdiri dari imam atau na’ibul imam.

Pengambilan ibarat:
1. I'anatut Tholibin, juz III, hal. 175 & juz II, hal. 185
2. Fathul Jawad, juz I, hal. 273

وفى إعانة الطالبين، ج 2 ص 175، مانصه:
(ويجب أداؤها) أى الزكاة والمراد بالأداء دفع الزكاة لمستحقها. اهـ

وفى فتح الجواد، ج 1 ص 273، مانصه:
فان قلت: قد الحق فى المجموع الفطرة بالظاهرة فى ان دفعها ولو للجائر أفضل فما سببه؟ قلت سببه ما فيه من المصلحة العائدة على الدافع من براءة ذمته يقينا بدفعها له وان علم صرفه لها فى نحو شرب خمر كما قاله القفال. اهـ

وفى إعانة الطالبين، ج 2 ص 185، مانصه:
ولو دفعها المزكى للإمام بلا نية ولا إذن منه له فيها لم تجزئ نية الإمام (قوله للإمام) ومثل الإمام نائبه كالساعى (قوله ولا إذن منه) أى من المزكى له أى الإمام فيها اى النية قال سم: مفهومه الاجزاء إذا اذن له فى النية ونوى وحينئذ فيحتمل انه وكيل المالك فى الدفع إلى المستحق فلا يبرأ المالك قبل الدفع للمستحق إذ لايظهر صحة كونه نائب المالك ونائب المستحق أيضا حتى يصح قبضه ويحتمل خلافه. اهـ

Zakat Fitrah dengan Makanan Pokok yang tidak Biasa

Zakat Fitrah dengan Makanan Pokok yang tidak Biasa
Zakat Fitrah dengan Makanan Pokok yang tidak Biasa

Pertanyaan:
Bolehkah mengeluarkan zakat fitrah di suatu daerah dengan makanan pokok yang tidak terbiasa di daerah tersebut?

Jawaban:
Tidak boleh (tidak mencukupi) menurut wajah yang rojih.

Pengambilan ibarat:
1. Al-Qolyubi, juz I, hal. 37
2. Mughnil Muhtaj, juz I, hal. 406

وفى قليوبى وعميرة، ج 1 ص 37، مانصه:
(ويجب) فى البلدى (من قوت بلده وقيل قوته وقيل يتخير بين) جميع (الاقوات) لقوله فى الحديث السابق صاعا من طعام أو صاعا من اقط أو صاعا من شعير إلى آخره وأجاب الأولان بأن أو فيه ليست للتخيير بل لبيان الأنواع التى تخرج منها فلو كان من قوت بلده الشعير وقوته البر تنعما تعين البر على الثانى وأجزأ الشعير على الأول وأجزأ غيرهما على الثالث وعبر فى المحرر والروضة وأصلها بغالب قوته وغالب قوت البلد. (قوله بغالب قوته) على الوجه المرجوح وغالب قوت البلد على الوجه الراجح والمراد به بلد المؤدى عنه والمراد غلبته فى جميع السنة. اهـ

وفى مغنى المحتاج، ج 1 ص 406، مانصه:
(تنبيه) لو قال من غالب قوت بلده كما قدرت غالب فى عبارته لكان أولى فإنه لوكان للبلد أقوات وغلب بعضها وجب من الغالب وليحسن قوله بعد ذلك ولو كان فى البلد أقوات لاغالب فيها تخير. اهـ

Pengertian dan Macam-macam Yurisprudensi

Pengertian dan Macam-macam Yurisprudensi
Pengertian Yurisprudensi adalah keputusan-keputusan dari hakim terdahulu untuk menghadapi suatu perkara yang tidak diatur di dalam UU dan dijadikan sebagai pedoman bagi para hakim yang lain untuk menyelesaian suatu perkara yang sama.

Lahirnya Yurisprudensi karena adanya peraturan peraturan UU yang tidak jelas atau masih kabur, sehingga menyulitkan hakim dalam membuat keputusan mengenai suatu perkara. Hakim dalam hal ini membuat suatu hukum baru dengan mempelajari putusan hakim yang terdahulu untuk mengatasi perkara yang sedang dihadapi. Jadi, putusan dari hakim terdahulu ini yang disebut dengan yurisprudensi.

Yurisprudensi diciptakan berdasarkan UU No. 48 Tahun 2009 Mengenai Kekuasaan Kehakiman, UU ini menyatakan : pengadilan tidak boleh menolak untuk memeriksa perkara, mengadili perkara dan memutuskan perkara yang diajukan dengan alasan hukum tidak ada atau kurang jelas (kabur), melainkan wajib memeriksa serta mengadilinya. Hakim diwajibkan untuk menggali, mengikuti dan memahami keadilan dan nilai-nilai hukum yang tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat.

Terdapat beberapa macam yurisprudensi, macam macam yurisprudensi tersebut sebagai berikut.
1. Yurisprudensi Tetap
Pengertian Yurisprudensi Tetap adalah suatu putusan dari hakim yang terjadi oleh karena rangkaian putusan yang sama dan dijadikan sebagai dasar bagi pengadilan untuk memutuskan suatu perkara.

2. Yurisprudensi Tidak Tetap
Pengertian Yurisprudensi Tidak Tetap ialah suatu putusan dari hakim terdahulu yang tidak dijadikan sebagai dasar bagi pengadilan.

3. Yurisprudensi Semi Yuridis
Pengertian Yurisprudensi Semi Yuridis yaitu semua penetapan pengadilan yang didasarkan pada permohonan seseorang yang berlaku khusus hanya pada pemohon. Contohnya : Penetapan status anak.

4. Yurisprudensi Administratif
Pengertian Administratif adalah SEMA (Surat Edaran Mahkamah Agung) yang berlaku hanya secara administratif dan mengikat intern di dalam lingkup pengadilan.

Referensi:
-Moh. Hatta, 2008. Menyongsong Penegakan Hukum Responsif Sistem Peradilan Pidana Terpadu (Dalam Konsepsi dan Implementasi) Kapita Selekta. Penerbit Galangpress : Yogyakarta.

Pengertian Hukum Tata Negara Menurut Para Ahli

Pengertian Hukum Tata Negara Menurut Para Ahli
Pengertian Hukum Tata Negara Menurut Para Ahli

Pengertian Hukum Tata Negara Menurut Para Ahli, sebagai berikut :
Pengertian Hukum Tata Negara adalah himpunan peraturan-peraturan tertentu yang menjadikan negara dapat berfungsi, sehingga peraturan-peraturan itu mengatur hubungan-hubungan hukum antar warga negara dengan pemerintahnya. Akan tetapi di sini tidak termasuk himpunan peraturan-peraturan mengenai pengadilan perdata dan pengadilan pidana.

Menurut Van Vollenhoven, Pengertian Hukum Tata Negara adalah seperangkat aturan hukum yang mengatur semua masyarakat hukum yang atasan dan bawahan menurut tingkatannya, dan dari masing-masing ini menentukan wilayah lingkungan masyarakatnya; yang pada akhirnya menentukan badan-badan dan fungsi dari masing-masing yang berkuasa di dalam lingkungan masyarakat hukum, serta menentukan penyusunan dan wewenang dari badan-badan tersebut.

Pengertian Hukum Tata Negara Menurut Scholten adalah aturan-aturan yang mengatur mengenai organisasi dari pada negara. Dalam organisasi negara tersebut telah mencakup bagaimana kedudukan organ-organ di dalam negara, hak dan kewajiban, hubungan, serta tugasnya masing-masing.

Menurut Kusumadi Pudjosewojo, Pengertian Hukum Tata Negaraialah hukum yang mengatur mengenai bentuk negara (federal dan kesatuan), dan bentuk dari pemerintahan (kerajaan atau republik), yang menunjukkan masyarakat hukum baik atasan maupun bawahan, serta tingkatan-tingkatannya yang selanjutnya mengesahkan wilayah dan lingkungan rakyat atas masyarakat-masyarakat hukum itu; dan akhirnya menunjukkan alat-alat perlengkapan (pemegang kekuasaan penguasa) dari masyarakat hukum tersebut, serta susunan (yang terdiri dari seorang atau sejumlah orang), wewenang, tingkatan dari dan antara alat perlengkapan tersebut.

Mr. Drs. E. Utercht dalam bukunya “Pengantar Hukum Tata Usaha Negara Indonesia“, memberikan gambaran mengenai Pengertian Hukum Tata Usaha Negara ialah (hukum administrasi, hukum pemerintahan) menguji perhubungan-perhubungan hukum istimewa yang diadakan akan memungkinkan para pejabat (ambtsdragers) (tata usaha negara, administrasi) melakukan tugas mereka yang istimewa.

Menurut Prof. Dr. J.H.A. Logemann dalam bukunya Staatsrecht Van Nederlands Indie, memberikan definisi dari Pengertian Hukum Tata Negara adalah hukum tersebut mengatur hubungan-hubungan hukum dengan warga masyarakat dan antara alat pemerintahan yang satu dengan yang lainnya, serta dipertahankan dan diberi sanksi oleh pemerintah sendiri.

Jadi dapat disimpulkan bahwa Pengertian Hukum Tata Negara berarti himpunan peraturan perundang-undangan yang mengatur hubungan-hubungan hukum antara pemerintah (Tata Usaha Negara) dengan warga negaranya; sehingga dengan demikian para pejabat pemerintahan (ambtsdragers) dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Akan tetapi dalam hal ini tidak termasuk peraturan perundang-undangan yang mengatur mengebai peradilan baik pengadilan hukum perdata maupun pengadilan hukum pidana.

Demikianlah pembahasan mengenai pengertian hukum tata negara menurut para ahli dalam tulisan ini, semoga tulisan saya mengenai pengertian hukum tata negara menurut para ahli dapat bermanfaat.

Referensi:
-R. Atang Ranumihardja, 1989. Hukum Tata Usaha Negara dan Peradilan Tata Usaha Negara di Indonesia. Penerbit Tarsito: Bandung.
Back To Top